Intinya, FASB menyatakan bahwa stablecoin hanya dapat dianggap sebagai setara kas jika investor dapat menukarkannya secara langsung dan setiap saat kepada penerbitnya dalam bentuk uang konvensional, tanpa melalui bursa atau platform lain. Secara teori, ini terdengar masuk akal. Namun dalam praktiknya, persyaratan ini bisa menjadi masalah besar bagi banyak stablecoin. Pasalnya, tidak semua penerbit stablecoin menjamin adanya mekanisme penukaran langsung semacam itu. Dan inilah yang berpotensi mengacaukan pasar.
Lebih jauh, meskipun stablecoin diperdagangkan secara likuid di pasar, FASB tetap menuntut jaminan tambahan: stablecoin tersebut harus didukung oleh cadangan yang sangat likuid—yaitu aset yang dapat dengan cepat dikonversi menjadi uang tunai tanpa kehilangan nilai signifikan. Ini memang rasional, tetapi bagi penerbit skala kecil, persyaratan ini bisa menjadi hambatan serius.
Mengapa Ini Penting?
Saat ini, akuntansi terhadap stablecoin seringkali tidak s
eragam. Beberapa perusahaan mengklasifikasikannya sebagai instrumen keuangan, sementara yang lain menganggapnya sebagai aset tidak berwujud. FASB berupaya menciptakan standar yang lebih jelas—dan pada prinsipnya, ini adalah langkah positif. Karena aturan yang seragam tidak hanya membantu perusahaan, tetapi juga memberikan keamanan bagi investor.
Namun, tak lepas dari itu, ada kritik yang muncul. Persyaratan yang ketat ini dikhawatirkan justru akan menyingkirkan stablecoin-skala kecil dari pasar. Belum lagi dimensi global: banyak stablecoin diterbitkan oleh perusahaan multinasional yang kini harus mempertimbangkan bagaimana memenuhi berbagai peraturan di berbagai yurisdiksi.
Langkah Selanjutnya?
FASB saat ini tengah membuka ruang untuk masukan—hingga 6 September 2023, perusahaan, investor, dan pihak terkait lainnya dapat memberikan tanggapan. Setelah periode tersebut, keputusan akan diambil mengenai implementasi aturan ini. Saya sangat penasaran bagaimana perdebatan ini berkembang, karena satu hal sudah pasti: perdebatan mengenai peran stablecoin dalam dunia keuangan tidak akan berhenti begitu saja.
Yang pasti, jika aturan ini akhirnya diberlakukan, cara perusahaan mencatat aset digital dalam laporan keuangannya akan berubah. Walaupun tantangannya tidak sedikit, langkah ini berpotensi meningkatkan kepercayaan dan profesionalisme di ranah kripto dalam jangka panjang.
📰 Baca juga
→ Penipu dari Texas Diduga Meraup 40 Juta Dolar Melalui Penipuan Bank→ Binance Data Flow into Russian Terrorism Trial – Even Years After Exit→ Franklin Templeton Buka Jalan bagi Tokenisasi dalam Bidang ETF