Proyek pilot ini bukan sekadar pencarian inovasi semata. Mereka ingin menguji stablecoin dalam skala bisnis-ke-bisnis (B2B), mulai dari penerbitan, transfer, hingga pencairan. Yang paling menarik adalah penerapannya dalam transaksi lintas batas. Di sini, stablecoin berpotensi mewujudkan janji yang selama ini disuarakan oleh cryptocurrency: cepat, murah, dan transparan. Bayangkan, tak ada lagi menunggu jam kerja bank, tak ada lagi biaya tinggi untuk transfer valuta asing. Sebaliknya, transaksi diselesaikan dalam hitungan detik.
Tujuan: Transaksi Lebih Cepat dan Dukungan AI yang Lebih Cerdas
Bagi Shinhan, proyek ini lebih dari sekadar inovasi biasa. Perusahaan ini memiliki rencana besar, termasuk penerapan kecerdasan buatan (AI) dalam sistem pembayaran. Bayangkan, AI bisa mendeteksi upaya penipuan secara real-time, menyesuaikan biaya secara dinamis, atau bahkan merekomendasikan metode pembayaran terbaik untuk usaha Anda. Mungkin terdengar seperti fiksi ilmiah, tapi dengan infrastruktur Visa dan pengetahuan pasar Shinhan, ini bisa menjadi kenyataan.
“Kita tengah berada di titik balik ini,” kata seorang sumber internal Shinhan. “Stablecoin memiliki potensi untuk membalikkan sistem pembayaran kita—terutama di sektor B2B, di mana setiap detik dan sen sangat berharga.” Visa pun melihat ini sebagai kesempatan untuk menetapkan standar baru. “Stablecoin bukan sekadar tren,” ujar seorang manajer perusahaan tersebut. “Mereka bisa memperkaya jaringan pembayaran global kita—jika kita memanfaatkannya dengan tepat.”
Hambatan Regulasi dan Potensi Pasar
Meski proyek ini terdengar sangat menjanjikan, jalannya tak selalu mulus. Korea Selatan memang telah menunjukkan sikap yang relatif terbuka terhadap cryptocurrency dalam beberapa tahun terakhir, namun pertanyaannya tetap: Bagaimana stablecoin akan diatur? Sebagai uang elektronik? Sebagai surat berharga? Klasifikasi ini bisa mengubah segalanya—mulai dari kewajiban pajak hingga siapa saja yang diperbolehkan untuk ikut serta.
Mes
ki begitu, optimisme tetap mengemuka. Korea Selatan bukanlah pemain kecil dalam dunia keuangan digital. Negara ini termasuk salah satu pasar paling aktif dalam adopsi cryptocurrency di dunia. Menurut Chainalysis, Korea Selatan masuk dalam peringkat 20 besar negara dengan adopsi crypto tertinggi. Kerja sama ini tak hanya bisa mendorong Shinhan dan Visa maju, tetapi juga menginspirasi bank dan perusahaan lain.
Di Mana Stablecoin Dapat Bersinar
Meskipun masih dalam fase uji coba, beberapa kasus penggunaan konkret telah teridentifikasi:
- Pembiayaan rantai pasok secara real-time: Bayangkan Anda mengimpor barang dari Amerika Serikat. Daripada menunggu berhari-hari untuk transfer bank, pembayaran langsung diselesaikan dalam hitungan detik. Tak ada jaminan mahal, tak ada waktu tunggu yang lama—hanya uang cepat untuk bisnis Anda.
- Solusi treasury cerdas: Sistem berbasis AI dapat membantu perusahaan Anda mengoptimalkan aliran kas secara otomatis. Artinya, modal Anda tak akan menganggur, dan Anda memiliki lebih banyak kontrol atas likuiditas.
- E-commerce global tanpa kekacauan biaya: Pedagang bisa menerima stablecoin sebagai metode pembayaran untuk menghindari risiko kurs mata uang dan biaya transaksi tinggi. Ideal untuk toko online yang menjual secara global.
“Sebelumnya, stablecoin lebih banyak dibicarakan oleh para penggemar teknologi atau penggiat DeFi,” kata Jung-Ho Kim dari Seoul Institute of Finance. “Tapi jika sekarang bank besar seperti Shinhan memanfaatkannya untuk sektor bisnis, ini bisa meyakinkan banyak skeptis—dan membuka jalan bagi adopsi yang lebih luas.”
Tonggak untuk Masa Depan Digital Korea Selatan
Kerja sama antara Shinhan dan Visa ini lebih dari sekadar eksperimen teknologi. Ini berpotensi meletakkan dasar bagi era baru dalam sistem pembayaran. Jika proyek ini berhasil, tak diragukan lagi bank dan perusahaan lain akan ikut serta. Pertanyaannya hanya: Seberapa cepat regulator akan mengikuti?
Yang pasti, perlombaan menuju masa depan uang telah dimulai. Dan Korea Selatan ada di tengah-tengahnya. Bulan-bulan mendatang akan menunjukkan apakah stablecoin benar-benar mampu melengkapi—atau bahkan menggantikan—sistem perbankan tradisional. Saya pun berharap semoga stabilcoin memiliki potensi tersebut. Karena jika ada satu hal yang Korea Selatan unggulkan dalam hal keuangan, itu adalah kesiapan mereka untuk mencoba hal-hal baru. Dan kadang-kadang—itulah saatnya untuk mengambil risiko.
📰 Baca juga
→ OECD Aturan Terlalu Sempit: 86% Aktivitas Kripto yang Relevan Pajak Tak Terekam→ Mata Uang yang Ditokenisasi: Mengapa Bank Menghadapi Stablecoin dengan Inovasi Mereka Sendiri→ Kripto untuk Masa Pensiun? Mayoritas Warga Jerman Masih Skeptis