Sudah pada Juni lalu, perusahaan ini melakukan reverse-split pertama dengan rasio 1:10 – langkah yang biasanya diambil ketika harga saham terus menerus mengalami penurunan jangka panjang. Alasannya? Harga saham yang terlalu rendah dapat mengecewakan investor institusional dan menjadikan saham tersebut sebagai "saham sen" (penny stock). Dengan menyatukan saham-saham tersebut, nilai nominalnya secara teoretis akan naik tanpa ada perubahan substansial pada nilai intrinsik perusahaan. Secara psikologis, ini diharapkan dapat mengembalikan kepercayaan pasar.
Lantas, apa dampaknya bagi pemegang saham? Jangka pendek mungkin tidak banyak perubahan. Pemegang saham yang sebelumnya memiliki satu saham kini memiliki 160 saham, tetapi nilai totalnya tetap sama. Namun, dalam jangka panjang, ada keuntungan potensial: investor institusional bisa kembali masuk, atau perusahaan dapat lebih mudah mengumpulkan dana tanpa harus melalui putaran pendanaan yang mahal.
Perusahaan ini sendiri telah memposisikan dirinya sebagai pemain penting di bidang kripto dan AI dalam beberapa tahun terakhir. Dengan portofolio senilai sekitar 400 juta dolar AS dalam a
set kripto dan protokol blockchain, mereka berinvestasi secara selektif dalam proyek-proyek yang berada di persimpangan AI dan sistem keuangan terdesentralisasi. Kombinasi kedua teknologi ini dianggap sangat menjanjikan, baik untuk strategi perdagangan yang lebih efisien maupun aplikasi smart contract yang inovatif.
Namun, tidak semua pihak antusias. Para kritikus sering melihat reverse-split sebagai tanda kelemahan. Jika sebuah perusahaan secara rutin menyesuaikan struktur sahamnya, hal itu bisa menjadi indikasi masalah mendasar yang tidak dapat diselesaikan hanya dengan "operasi kosmetik" harga. Selain itu, rencana reverse-split ini juga bisa menimbulkan skeptisisme di kalangan investor: jika harga saham tidak naik setelah reverse-split, kekecewaan pun tak terhindarkan.
Pemungutan suara pada 3 September akan menunjukkan apakah pemegang saham percaya pada manajemen perusahaan. Yang pasti, perusahaan ini berfokus pada pertumbuhan. Industri AI berkembang pesat, dan proyek-proyek kripto berbasis AI diperkirakan akan menjadi lebih penting dalam beberapa tahun ke depan. Melalui reverse-split dan peningkatan jumlah saham yang disetujui, perusahaan menciptakan lebih banyak ruang bagi ekspansi di masa depan.
Pada akhirnya, pertanyaannya tetap: Apakah ini strategi cerdas atau upaya putus asa untuk menopang harga saham secara artifisial? Jawabannya tergantung pada apakah perusahaan benar-benar mampu menciptakan nilai jangka panjang. Para pemegang saham sebaiknya memantau perkembangan ini dengan cermat dan bertanya: Langkah ini benar-benar menjanjikan peningkatan nilai yang berkelanjutan – atau hanya solusi jangka pendek untuk menutupi masalah harga?
📰 Baca juga
→ Pakistan Meluncurkan Portal Lisensi untuk Perusahaan Kripto – Batas Akhir 5 September→ Kripto Diatur Lebih Ketat: SEC Ajukan Rancangan Baru→ Jutaan Dolar Denda untuk Bank of America dan EY: Ketika Perlindungan Data Menjadi Sekedar Pantomim