Kedua dana negara ini bersama-sama memiliki 22,94 juta saham di iShares Bitcoin Trust ETF milik BlackRock. Saat ini, nilai tersebut setara dengan sekitar 764 juta dolar AS. Ya, kalian membaca dengan benar: meskipun mengalami kerugian sekitar 118 juta dolar AS hanya pada kuartal kedua, strategi mereka tetap tak tersentuh. Ini bukan kebetulan, melainkan sebuah pernyataan tegas. Dana-dana ini memercayai teknologi blockchain dengan jangka panjang—dan dengan sengaja mengabaikan kepanikan pasar yang membuat banyak investor lain limbung.
**Mengapa kedua dana ini tetap tenang?**
Sementara setengah Eropa dan Amerika Serikat justru menjual atau setidaknya mengurangi portofolio crypto mereka, para penguasa Emirat menerapkan taktik berbeda: *hold*. Dan itu bukan tanpa alasan. Seorang juru bicara Mubadala baru-baru ini mengungkapkan bahwa bagi mereka, Bitcoin dan aset crypto lainnya bukan lagi permainan spekulatif, melainkan bagian penting dari strategi investasi terdiversifikasi. *"Kami melihat potensi jangka panjang di sini,"* ujarnya—dan itu terdengar bukan sekadar basa-basi pemasaran, melainkan keyakinan yang nyata.
Yang menarik, kedua dana ini sebenarnya mengirimkan pesan kuat: mereka tidak hanya percaya pada Bitcoin sebagai "emas digital", tetapi juga pada teknologi blockchain yang mendasarinya. Mubadala Investment Company bukanlah pemain kecil—mereka termasuk salah satu dana negara terbesar di dunia dengan aset dikelola lebih dari 280 miliar dol
ar AS. Ketika dana sebesar itu berinvestasi di crypto dan bahkan secara terbuka menyatakan keyakinannya, itu adalah sinyal yang sangat kuat.
**Pasar tertawa—tapi mereka tetap bertahan**
Tentu saja, krisis Bitcoin bukanlah hal yang menyenangkan. Sejak mencapai rekor tertinggi pada November 2021, nilainya telah turun lebih dari 60%, ditambah dengan hambatan regulasi dan ketidakpastian makroekonomi yang semakin memperumit situasi. Namun demikian, dana dari Abu Dhabi tetap teguh. Dan ini bukan tindakan sepihak. Bitcoin ETF milik BlackRock, yang baru diluncurkan pada Januari, telah mengumpulkan lebih dari 1,5 miliar dolar AS dalam aset yang dikelola. Para investor institusional sepertinya mulai memahami bahwa crypto bukan lagi sekadar hype—ia sudah ada untuk selamanya.
Para ahli seperti Noelle Acheson, mantan kepala CoinDesk, mendukung pandangan ini. *"Jika dana negara saja tetap mempertahankan posisi mereka, itu menunjukkan bahwa Bitcoin akan bertahan dalam jangka panjang,"* katanya. Dan dia benar: jika para ahli cerdas dari Abu Dhabi tidak panik, mengapa yang lain harus melakukannya?
**Kesimpulan: Crypto telah tiba—dan para pemain besar tetap di dalamnya**
Pesan yang disampaikan jelas: Bitcoin bukan lagi produk sampingan untuk para penggemar teknologi dan pencari untung. Ia telah menjadi bagian penting dari strategi keuangan global—setidaknya bagi mereka yang berpandangan jauh ke depan. Dana dari Abu Dhabi menunjukkan bahwa di tengah badai, kita bisa tetap tenang. Dan siapa tahu—mungkin investor besar lain akan segera mengikuti.
Satu hal yang pasti: selama dana negara seperti Mubadala dan Abu Dhabi Investment Council tetap percaya pada Bitcoin, perdebatan tentang masa depannya tidak akan berhenti. Dan itu adalah hal yang baik. Karena jika para pemain besar tetap bertahan, mungkin suatu hari nanti investor kecil pun akan mengikutinya dengan sikap tenang alih-alih panik.
📰 Baca juga
→ Bitcoin Mengalami Minggu Terkuat Sejak 2023 – Short Seller Rugi Miliaran→ Strategi Bitcoin MicroStrategy: Dari Rugi Miliaran Menjadi Untung Miliaran→ Rekor ETF: Investasi Bitcoin Mengalami Lonjakan Terbesar Sejak Mei