---
Likuiditas sebagai Akselerator: Mengapa Bitcoin Kini Kembali Melaju
Keyakinan Kendrick bersumber dari dua faktor utama: perbaikan kondisi likuiditas dan kemungkinan pasar tengah melewati titik terendah siklusnya. Setelah tekanan jual selama berbulan-bulan, Bitcoin kini menunjukkan stabilitas—tanda bahwa musim dingin crypto perlahan mulai mencair. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan "likuiditas yang membaik"? Di sinilah peran The Fed (Bank Sentral AS) masuk. Bank sentral Amerika Serikat telah melonggarkan kebijakan suku bunga yang ketat, menghentikan kenaikan suku bunga, dan bahkan mempertimbangkan penurunannya. Dampaknya? Lebih banyak uang mengalir ke pasar—termasuk ke aset berisiko tinggi seperti Bitcoin.
---
Departemen Keuangan AS sebagai Sekutu Tersembunyi?
Bukan hanya The Fed, Departemen Keuangan AS juga turut serta. Lembaga ini memutuskan untuk menggandakan pembelian obligasi jangka panjang. Tujuannya jelas: menstabilkan suku bunga jangka panjang dan menciptakan lebih banyak likuiditas di pasar obligasi. Lalu, mengapa ini relevan bagi Bitcoin? Sederhana saja: jika obligasi menawarkan imbal hasil yang lebih rendah, investor akan mencari alternatif—dan mata uang kripto seperti Bitcoin bisa menjadi pilihan utama. Efek domino klasik.
---
Pola Historis: Mengapa $100.000 Bukan Angan-Angan
Prediksi Kendrick bukanlah omong kosong belaka. Secara historis, Bitcoin sering kali mengalami tren naik yang kuat setelah peristiwa halving—yakni
pengurangan imbalan bagi penambang sebesar setengahnya. Setelah halving terakhir pada 2020, harga Bitcoin melonjak dari sekitar $10.000 hingga hampir $70.000. Halving berikutnya ditargetkan pada April 2024—banyak yang meyakini inilah saatnya pasar bullish benar-benar melesat.
Selain itu, harga Bitcoin saat ini di angka $69.000 bisa menjadi tanda "puncak dasar pasca-siklus" (post-cycle bottom): fase saat pasar sedang mengumpulkan kekuatan sebelum melonjak lagi. Semua indikator tampaknya mengarah ke arah yang positif.
---
Yang Perlu Diperhatikan Investor: Jangan Anggap Remeh Risiko
Namun, hati-hati. Regulasi masih menjadi faktor ketidakpastian besar. Badan Pengawas Sekuritas AS (SEC) kerap menargetkan proyek kripto—dan dampaknya sering kali negatif terhadap pasar. Jika pengawasan semakin ketat, Bitcoin bisa mengalami hambatan jangka pendek.
Risiko makroekonomi juga tak kalah penting. Meskipun The Fed menunjukkan tanda-tanda pelonggaran, inflasi masih tinggi. Ancaman resesi bisa membuat investor ragu—dan pada akhirnya menekan harga Bitcoin.
---
Kesimpulan: Skenario Bullish dengan Skeptisisme Sehat
Prediksi Kendrick tentang Bitcoin menembus $100.000 terdengar ambisius, tapi bukan mustahil. Kombinasi kebijakan moneter yang lebih longgar, potensi titik terendah siklus, dan strategi obligasi Departemen Keuangan AS memberi harapan. Jika faktor-faktor ini bertahan, Bitcoin berpotensi mencapai rekor baru.
Namun, seperti biasa, dunia kripto tetap volatil. Guncangan eksternal—baik dari regulasi, krisis ekonomi, atau masalah teknis—dapat mengganggu pasar kapan saja. Bagi investor, penting untuk berpikir jangka panjang dan tidak terbawa oleh fluktuasi jangka pendek.
Satu hal yang pasti: Bitcoin telah membuktikan dirinya lebih tangguh daripada yang banyak orang kira. Dan jika benar-benar menembus angka $100.000, dampaknya tidak hanya akan dirasakan oleh para penggemar kripto, tapi juga oleh seluruh dunia keuangan. Bulan-bulan mendatang akan sangat menarik—ikuti terus perkembangannya!
📰 Baca juga
→ Bitcoin Demam: Mengapa Kelangkaan Pasokan Saat Ini Membangkitkan Semangat Para Bull→ Investor Cerdas Dorong Kenaikan Bitcoin – Pantera Capital Prediksi Lonjakan Harga Lebih Tinggi→ Coldcard Menerapkan Langkah Keamanan Lebih Ketat setelah Pencurian Bitcoin dalam Skala Besar